PSK, Profesi Paling Terancam Selama Pandemi

Fitri Tamara 0

Hampir seluruh profesi terancam berkurang pendapatannya selama pandemi Covid-19. You Name It : Pengajar, DJ, Pedagang, Transportasi Offline ataupun Online, dll. Tapi profesi yang paling kepepet karena menu utama pekerjaannya memang melakukan kontak fisik sedekat-dekatnya dengan pelanggan adalah Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kawasan prostitusi dari Bangkok ke Pattaya kini sepi setelah berbagai klub malam dan panti pijat plus-plus tutup serta para wisatawan dilarang masuk ke negara tersebut. Kebijakan itu membuat sekitar 300 ribu pekerja seks komersial kehilangan pendapatan mereka, dan memaksa mereka untuk turun ke jalan di tengah risiko terpapar virus corona yang sedang mewabah.

Bukan apa-apa, mekanisme penularan Covid-19 yang sangat instan dan misterius membuat para lelaki hidung belang pun berpikir puluhan kali sebelum menggunakan jasa PSK. Tentu para lelaki tersebut “terpaksa” lebih memikirkan keluarga – terlebih lagi anak-anaknya dirumah ketika mereka menjadi beresiko tinggi tertular, selain uang saku untuk “jajan” yang menipis. Buat mereka, Covid-19 lebih menakutkan dari doktrin agama dan HIV/AIDS.

Ada ketakutan situasi ini berlangsung lama, yang mampu merenggut miliaran dolar para turis dari ekonomi Thailand dan menyisakan mereka yang bekerja di sektor informal hidup melarat. Mereka itu termasuk PSK, ilegal namun diterima sebagai bagian dari kehidupan malam Thailand. Kekhawatiran bahwa skema darurat Pemerintah lokal untuk memberikan 5.000 hingga jutaan baht ke pengangguran baru selama tiga bulan ke depan, tak merangkul para PSK karena tidak dapat membuktikan diri sebagai pekerjaan resmi.

Itu cerita malam di Thailand, bagaimana Indonesia? Kita tentu tahu bahwa seluruh tempat hiburan, panti pijat, dan hotel tutup. Bagaimana kabar PSK di Indonesia, atau Ibukota sebagai parameternya? Menurut salah satu sumber, mereka mengakali agar tidak menunggu tamu di “tempat resmi” seperti biasanya.

Tapi manajemen dan Si Mami-nya bergerilya melalui medsos, tetap “mengiklankan” anak buahnya beserta embel-embel informasi bahwa tempat sudah disediakan di venue netral seperti apartemen, kos-kosan, atau lokasi “halus” lain. Tentang bagaimana uang yang masuk tetap terbagi rata ke manajemen, Mami, dan terakhir sang PSK, itulah yang luar biasa rapi dan terencana.

Apakah menurut anda wabah Covid-19 bisa teratasi dengan cepat sedangkan gerakan underground semacam ini tetap liar? Well, jika menyangkut perut, semua bisa serba dilematis. Seperti dituturkan salah satu penjaja cinta yang memberi konfirmasi, “Kami lebih takut tak memiliki apa pun untuk dimakan dibanding virus.”

 

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.