Playstation 5 Hadir November 2020, Bagaimana Prospeknya Di Indonesia?

Fitri Tamara 0

Playstation 1 pertama kali launching secara worldwide tahun 1995, dan total terjual lebih dari 100 juta unit. Setelah 3 suksesor mengikutinya – dan laris manis semua – kini dunia menantikan edisi kelima dari Pureisutēshon (menurut spelling orang Jepang) yang pasti lebih canggih dan rumit.

Tentu saja, rivalitas abadi Sony dan Microsoft di dunia home console masih dikipas-kipas secara kencang. Dikala Sony Playstation 5 direncanakan hadir 12 November di sejumlah negara, X-Box Series X besutan Microsoft memasang agenda lebih awal, yaitu 10 November.

Sony sudah pasti meladeni duel sengit yang ditabuh oleh Microsoft . Selain menetapkan tanggal rilis yang hanya hitungan hari, mereka men-setting bandrol yang hampir sama. PS5 berharga USD 499,99 (sekitar Rp 7,4 juta dengan kurs Rp 14.800 per USD). Xbox Series X kurang beberapa sen saja yaitu USD 499.

Perusahaan konsol memang sedang giat-giatnya mengejar penjualan tahun ini. Pandemi Covid 19 dan karantina membuat penjualan video game Sony dilaporkan meningkat 32,5 persen pada kuartal pertama. Sedangkan Microsoft mengklaim pendapatan jasa gaming naik 13 persen.

Okelah itu adalah bahasan worldwide – sedangkan di Tanah Air, fenomena seperti ini masih harus diperbincangkan ulang. Penyebabnya adalah kini bermain Playstation tidak se-simple 10-20 tahun lalu saat Playstation 1 dan 2 masih sederhana.

Pertama adalah ketersediaan dana terkait pendapatan yang menurun. Tahun-tahun lampau kala konsumen mengeluarkan uang untuk membawa pulang sebuah game, mereka cenderung tidak berpikir panjang karena harga game yang relatif murah (bajakan). Kini dengan harga game (ini PS4, bagaimana nanti PS5?) 500-700 ribu, jujur saja orang harus banyak-banyak buka preview, nonton Youtube, dan menabung keras terlebih dahulu.

Perkiraan kasus pertama ditekankan oleh pandemi Covid-19 yang mempengaruhi konsumerisme. Nafsu bermain game di Indonesia yang meningkat tidak diikuti dengan kemampuan beli, Apalagi disekitar waktu launchingnya, besar kemungkinan di Indonesia pandemi belum usai dan kondisi ekonomi belum pulih.

Kedua adalah accessabilty, dimana dahulu bermain game tinggal plug and play. Kini jika akses internet kurang memadai, maka kenikmatan orang-orang yang tanpa WiFi dan jaringan internet kurang kuat juga dikebiri. Bisa dibayangkan PS5 sudah pasti lebih connected dibanding suksesornya.

Kombinasi perkiraan pertama dan kedua membuat sebagian pasar di Indonesia mungkin masih memilih untuk bermain game di ponsel daripada membeli PS 5 di awal-awal peluncurannya.

Bukan berarti Playstation 5 dinilai tidak laku di Indonesia. Paling tidak akhir 2020 sampai awal 2021 pasar potensial masih adem ayem saja, kebutuhan primer didahulukan sambil melihat-lihat review netizen yang sudah pasti kritis membahas hot product yang baru keluar.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.