Timnas Indonesia : Filanesia – Membangun Filosofi Cantik Dengan Komandan Yang Tak Menentu

Fitri Tamara 0

Beberapa tahun lalu PSSI mencanangkan sebuah filosofi sepakbola untuk mendesain Tim Nasional Indonesia : Filanesia, sebuah filosofi yang menarik tapi harus diakui sampai tahun ke 2-3 ini, garis besarnya (masih) membingungkan.

Filanesia mulai digaungkan saat masa kepelatihan Luis Milla, sebuah filosofi yang akan menjadi fondasi dan karakter sepak bola Indonesia, baik untuk pembinaan usia dini sampai profesional dari segi individu maupun tim. Peluncuran resmi Filosofi Sepak Bola Indonesia dilakukan pada 9 November 2017 di Jakarta.

Awalnya sangat menarik. Di tahun tersebut kita dilatih oleh tangan dingin asal Spanyol yang reputasinya sungguh layak dapat applause, dia mantan pemain Real Madrid, Barcelona, dan Tim Nasional Spanyol dengan filosofi tiki-taka (operan dari kaki ke kaki) yang menggiurkan. Ditambah lagi, di tahun tersebut kita memiliki banyak pemain muda yang dianggap menjanjikan. Baru sekitar 3-4 tahun sekitar itulah dimana timnas kategori usia (U-19, U-16, dsb) diliput habis-habisan bahkan seringkali mengalahkan publikasi terhadap timnas seniornya, saking dianggap berbakat.

Luis Milla sebenarnya tidak bisa dibilang gagal dalam 1,5 tahun kiprahnya bersama Filanesia walaupun targetnya missed. Anak-anak itu bermain cantik dan rapi. Namun setelah beberapa drama dan perselisihan, dia tidak melanjutkan kiprahnya di Indonesia dan meninggalkan Filosofi Filanesia ala Spanish Tiki-Taka yang baru setengah sempurna – namun segitu saja sudah – sungguh, enak dilihat.

Estafet berikutnya mulai membingungkan. Filanesia berlanjut keluar trek karena PSSI memilih pelatih asal Skotlandia, Simon McMenemy. Okelah Simon bergaji jauh lebih murah dan sebelumnya juara Liga 1. Tapi bagaimana kabar Filanesia? Gaya bermain orang Spanyol dan Skotlandia berbeda seperti langit dan bumi. Ya memang, Simon berusaha melanjutkan permainan one-two touch ala Milla kedalam tim dengan upaya tim lebih mudah beradaptasi. Tapi itu seperti meminta seekor ikan belajar memanjat. Simon gagal total di Timnas Indonesia.

Pengalaman tersebut merupakan Total Zonk dan PSSI berusaha lebih rapi dalam menentukan komando pengawal Filanesia. Kali ini kiblat berubah lagi, pemilihan Shin Tae Yong (STY) membuat kini Filanesia berbentuk ala Korea Selatan. Silahkan dibayangkan bagaimana membuat garis merah antara permainan Spanyol, lalu ke Skotlandia, lalu Korea Selatan.

Kini STY dibebankan target tinggi di Piala Dunia U-19 yang dibebankan PSSI, Dia tentu tidak ambil pusing dengan filosofi-filosofi pelatih sebelumnya karena sejak pelatnas pertama pun telah terlihat ; orang Korea mengedepankan ketahanan fisik yang spartan. Apapun hasil yang dicapai STY, masyarakat harus sudah tahu 1 hal ; bangsa kita tidak bisa memegang teguh segala filosofi atau segala yang berbau konseptual. Permainan seperti apapun pada akhirnya ayo aja asal bisa menang dan akhirnya bisa melegakan peta politik sekelompok bapak-bapak yang sedang menjabat.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.