Pelipur Lara Masyarakat Selama Pandemi Akan Dikenakan Pajak

Sedikit rasanya penghiburan yang ampuh bagi masyarakat beberapa bulan terakhir ini di kala pandemi virus melanda. Di kala bioskop, taman hiburan umum, arena olahraga vakum dihadiri keramaian, masyarakat beralih menyibukkan diri ke media daring. Aktif bergaul di twitter atau belanja di E-commerce menjadi kebutuhan primer untuk menjadi pelipur lara di masa-masa yang berat. Sayangnya, sebentar lagi setitik air itu pun berpotensi akan terasa lebih berat.

Sebanyak 12 perusahaan telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak karena memenuhi kriteria Pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), diantaranya LinkedIn Singapore Pte.Ltd (Social Media para pencari lowongan kerja), Twitter International Company (Social Media sarana celotehan ringan dan timpal-menimpali sesama penggunanya) dan PT Shopee International Indonesia (E-Commerce wadah penjual dan pembeli bertemu di dunia maya).

Bersama 9 perusahaan lain, per 1 Oktober 2020 mereka akan dikenakan PPN atas produk dan layanan digital yang mereka jual kepada konsumen.

Menurut Hestu Yoga Saksama selaku Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat Jenderal Pajak, jumlah PPN yang harus dibayar pelanggan adalah 10% dari harga sebelum pajak. Akan dicantumkan di kuitansi yang diterbitkan penjual sebagai bukti PPN.

Meski belum menemukan korelasi apa yang harus masyarakat bayar ketika mengakses LinkedIn atau Twitter, tapi kabar ini cukup memberatkan masyarakat yang selama ini terbantu dengan kemudahan dan harga relatif ringan bertransaksi di dunia online.

Mari dianalisa. Selama pandemi masyarakat dihimbau untuk berdiam di rumah, dengan mayoritas penghasilan tidak sebesar biasanya.

Datang ke mall dan pusat perbelanjaan berarti menantang maut, berarti bergaul dan mencari barang di online adalah hiburan tersendiri.

Dengan ber-haha hihi di twitter dan cuci mata di toko online yang relatif lebih murah dibanding toko fisik, dua hal tersebut merupakan alternatif yang sangat membantu.

Dapat dibayangkan jika sebelumnya toko online membandrol produk lebih murah 15-20 persen dibanding toko fisik.

Dengan tambahan (kalau terealisasi) PPN, maka harga normal akan ditambah 10 persen, plus ongkir (kita pukul rata jika semua ada ongkir), maka harga produk online jadi kurang lebih sama dengan produk di toko fisik.

Catat satu lagi – di toko fisik, konsumen dapat meraba dan merasakan finishing, tekstur, memastikan kualitas barang yang mereka taksir, sedangkan di toko online tidak bisa.

Dengan segala pertimbangan tersebut, lebih baik pesan dari rumah atau sekalian jalan-jalan? Untuk barang-barang dan alasan tertentu, mungkin banyak orang lebih memilih yang kedua.

Notes: dengan maraknya online, penggunaan printerpun sedikit berkurang tapi masih saja banyak yang menggunakannya. Bila printer Anda error, coba cek bagaimana resetter epson l220 ini bisa membantu Anda.

Alhasil satu “keuntungan telak” berbelanja di toko online sedikit-banyak telah mentah, belum lagi jika membayangkan apa yang akan konsumen bayarkan ketika mencari kerja di LinkedIn atau berkicau di Twitter.

Mari berharap kebijakan tersebut masih bisa goyang, entah sekedar diutak-atik atau batal, agar pemerintah benar-benar mendukung kampanye selama pandemi “semua lebih murah mudah dan nyaman dari rumah”.

You May Also Like

About the Author: Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.