Isabella Guzman, Pembunuh Sadis Ibu Kandungnya : Dendam atau Murni Psikopat?

Fitri Tamara 0

Namanya cantik sekali dengan paras yang juga relatif mudah untuk memikat lawan jenisnya. Tapi jangan salah, kisahnya membuat dia hampir setara dengan Reynhard Sinaga dan Ted Bundy – faktor kejiwaan yang membuat bulu roma orang waras bergidik.

Jika Reynhard dan Ted merupakan serial action – korbannya banyak, maka korban dari Isabella hanya satu orang, yaitu ibunya. Namun jangan salah, cara dia membunuh ibunya sangat sadis yaitu sebanyak 151 tusukan di kepala dan tubuh. Belum cukup, dia masih menghajar kepala wanita yang melahirkannya itu dengan tongkat baseball.

Kisah dimulai ketika orangtua dari Isabella bercerai, dan ibunya menikah lagi. Di titik itulah kegilaan remaja wanita asal Colorado ini makin menjadi-jadi. Dia sering bertengkar dengan ibunya dan endingnya adalah pembantaian di kamar mandi, saat sang gadis masih berusia 18 tahun, medio 2013 lalu.

Dia memang pada akhirnya tidak dihukum karena dikonfirmasi sebagai pengidap kejiwaan – skizofrenia paranoid ( dimana penderitanya cenderung untuk menolak kenyataan ) tapi mari kita analisa singkat dari timeline yang didapat dari berbagai sumber.

Saat Isabella masih kecil, Robert Guzman dan Yun-Mi-Hoy bercerai. Hampir dapat dipastikan seluruh anak terguncang jiwanya mendapati keluarganya berantakan. Secara psikis dapat dikatakan Isabella lebih dekat ke ayahnya karena seringkali mereka berbincang dari hati ke hati, bahkan sampai detik- detik terakhir sebelum pembantaian itu terjadi.

Ada kemungkinan sejak perjalanan bercerai, Isabella menangkap asumsi bahwa ayahnya ada di pihak yang lebih menderita, dan ibunya sebagai pihak “antagonis”. Perasaan tertekan namun belum dapat melawan itu disimpan sampai remaja, dan semakin mendidih saat si ibu “antagonis” menikah lagi. Isabella semakin tidak terima “idolanya” resmi tersingkir.

Sebelum memutuskan untuk menikam ibunya, Isabella dan ayahnya justru bertemu dalam suatu momen yang manis sambil menikmati suasana, dimana Robert Guzman menasehati putrinya itu untuk menghormati orangtua, jangan memberontak, mencoba lebih mendengarkan, dan semua akan baik-baik saja.

Namun sikap Robert yang nrimo itu sepertinya malah membakar dendam di hati Isabella untuk mengakhiri “perlakuan tidak menyenangkan” ibunya. Hanya beberapa jam setelah perbincangan dengan ayahnya, sang anak melancarkan aksi keji tersebut.

Bisa jadi sebelumnya Isabella cenderung normal atau hanya gangguan ringan, dan kegilaannya baru meledak saat dia tetap dekat dengan sang ayah, dan semakin mendapati bahwa ayahnya tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ditambah lagi “ayah barunya” tidak seperti yang dia harapkan, atau jauh sekali dari figur idolanya.

Akhirnya pengadilan memutuskan Isabella dikirim ke rumah sakit jiwa tanpa batas yang tidak ditentukan. Mungkin ia sudah puas menuntaskan unek-uneknya sedari kecil. Perceraian tidak menghancurkan ayah saja, atau ibu saja, tapi semua yang terkait di keluarga tersebut.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.