Dihindari Banyak Negara Terkait Wabah, Bagaimana Indonesia?

Fitri Tamara 0

Diantaranya Australia. Uni Emirat Arab. Hungaria. Malaysia. Tidak, jangan terburu baper – apalagi mendengar nama pertama dan terakhir. Ini adalah PR buat Indonesia tentang bagaimana menangani pandemi global dan yang lebih penting – mendisiplinkan warganya sendiri.

Sudah sejak dahulu kita cenderung sensitif mendengar dua negara tetangga yang mengapit di utara dan selatan, yaitu Malaysia dan Australia. Apalagi media cenderung memberi highlight terang benderang untuk memanaskan suasana. Ini sama sekali bukan gengsi kebangsaan apalagi isu agama, mungkin perlu dibaca ulang bahwa Uni Emirat Arab pun melakukan hal yang sama kepada bumi pertiwi kita.

Adalah benar dan dewasa sikap yang diambil oleh Menteri Luar Negeri kita Retno Marsudi bahwa peraturan tersebut adalah hak mereka. Terlebih negara kita sedang punya data ngeri : 196.989 kasus sampai hari Senin (7/9) dan alih alih melandai, puncaknya pun diramalkan belum terjadi. Kita patut cemas dengan keadaan internal terkini, bahwa kita belum punya formula yang pas untuk mengatasi wabah global tersebut.

Selentingan bahwa negara negara tersebut menyangsikan kemampuan pemerintah Indonesia menangani wabah adalah miris. Sebelah mana mirisnya adalah seperti ini : Retno masih melakukan nego izin berkunjung terkait proyek strategi nasional atau kunjungan ekonomi kenegaraan. Yang mana pelaku yang hadir ke negara negara tersebut pastilah merupakan petinggi-petinggi negara kita, termasuk bagian dari orang-orang yang disebutkan di kalimat pertama paragraf ini.

Disinilah tricky-nya. Dunia luar tidak percaya dengan pemerintah kita. Apakah mereka akan membiarkan kunjungan pembicaraan ekonomi dan kepentingan strategis lain jika anggapan yang terlanjur terbentuk adalah “menangani negaranya sendiri (terkait pandemi) saja tidak bisa.”

Tentunya akan semakin pelik jika ketidakpercayaan itu terpelihara semakin subur, dan kita akan semakin terkucil di mata dunia internasional. Perlu effort lebih dari pemerintah untuk menunjukkan kondisi penanganan virus di negara kita ada dalam progress yang positif. Jika tidak dalam keadaan skeptis, mereka akan lebih mudah membuka diri. Tentu kita tidak mau dalam beberapa tahun ke depan – saat dunia luar sudah sepenuhnya bersih dan melupakan virus ini, kita masih saja berkutat dengan statistik sambil meributkan penambahan tempat isolasi bagi penderita OTG. Kita dipandang sebagai negara jorok dan penyakitan. Semoga tidak terjadi demikian.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.