Ulasan Mata Najwa Edisi Berebut Takhta Ditengah Wabah : Najwa vs Gibran

Benar adanya bahwa didalam dunia politik tidak ada yang abadi. Tidak ada kawan abadi, Tidak ada musuh abadi, sampai tidak ada pernyataan yang abadi. Semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan saat itu.

Pada edisi penghujung bulan September, kembali Najwa Shihab mengulik orang yang memang sedang disorot oleh publik – selain sebelumnya putri Quraish Shihab itu melakukan “monolog” menghadapi “Terawan Agus Putranto”.

Najwa kali ini memilih Gibran Rakabuming sebagai lawan. Putra Presiden Joko Widodo tersebut dicalonkan sebagai Walikota Solo di Pilkada mendatang, setelah sekitar 2 tahun sebelumnya Gibran sempat berkata ingin terjun (ke dunia politik) 20 tahun lagi. Kepada siapa kakak dari Kaesang Pangarep itu memberikan statement? Tidak lain dan tidak bukan, Najwa juga – di talkshow yang sama.

“Tidak ada yang berubah, niat saya masih sama. Dulu saya jadi pengusaha itu niatnya agar saya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Sekarang saya masuk ke politik, niatnya masih sama. Niat saya adalah agar bisa bermanfaat untuk orang yang lebih banyak lagi,” ucapnya.

Banyak orang berkomentar sinis dan menganggap peran ayahnya yang tengah menjabat Presiden mempermudah karier politiknya yang sebelumnya menekuni dunia wiraswasta.

Suka tidak suka, telah jamak sosok orangtua mengajak anaknya melanjutkan apa yang dia usahakan. Dari usaha warung kopi sampai mengurus wilayah negara. Entah netizen berpikiran jawabannya nyambung atau tidak, namun jawaban yang dilontarkan Gibran masih tergolong “aman”.

Seorang Agus Harimurti Yudhoyono pun performanya tergolong kurang luwes saat penampilan perdana pilkadanya di Pilgub DKI 2016. Persis seperti ini, ia pun tadinya murni militer sebelum banting setir ke politik.

Tentang pertanyaan apakah murni dorongan dari dirinya sendiri atau ada faktor-faktor lain – seperti dorongan ayahanda, Gibran mengaku keputusannya tersebut merupakan murni dari dalam dirinya sendiri.

Sekali lagi, keputusan finalnya memang murni dari diri sendiri, namun dengan dorongan dan celetukan awal entah dari siapa, kita tidak perlu tahu.

Apalagi jika diungkit tahun 2018 lalu ia masih menjawab 20 tahun lagi, dan kini ia tiba-tiba siap – mungkin saja itu ditilik dari internal partai yang pada saat ini sedang kekurangan tipikal pemimpin muda, disamping psikologis Gibran yang sekarang sudah lebih dewasa dibanding 2018.

Masyarakat bisa lihat sendiri proyeksi pemimpin yang sudah mulai digadang-gadang adalah Giring Nidji sampai El Rumi.

Apakah ia secara kapabilitas pantas menduduki posisi itu, tentu hal yang berbeda. Yang jelas Gibran ada di posisi start yang relatif lebih mudah karena predikatnya sekarang. Dan jika akhirnya nanti ia yang naik, covering dari orang-orang disekitarnya yang akan diterima juga lebih intens di setiap right-or-wrong yang dia lakukan.

 

About the Author: Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com