Masih Perlukah Perlakuan Humanis Terhadap Covidiot?

Fitri Tamara 0

Sebelum lebih panjang membahas artikel ini, mari kita menyamakan pikiran terlebih dahulu tentang definisi Covidiot. “Orang-orang yang secara keras kepala mengabaikan protokol kesehatan, dan secara langsung/tidak turut menyebarluaskan virus Covid-19”.

Ada ironi yang tidak masuk akal – Saat Covid-19 baru masuk ke Indonesia medio Maret 2020 dimana korban baru 1-2 orang, masyarakat panik luar biasa. Perlindungan diri semacam masker dan Hand-sanitizer habis diborong orang-orang paranoid. Namun 6-7 bulan berikutnya saat virus semakin merajalela menjangkiti hampir 250.000 orang, lama kelamaan mereka semakin terbiasa, semakin abai.

Di tempat A, ada orang yang secara jelas mengabaikan protokol kesehatan tapi melakukan perlawanan saat diperingatkan petugas. Di tempat B, ada orang yang divonis positif namun berniat menyebarkannya ke orang lain. Di tempat C, ada yang tidak percaya ancaman virus dengan alasan agama, dengan alasan konspirasi, dan banyak pemikiran lain.

Terlebih lagi, sanksi untuk para Covidiot masih tergolong ringan. Menyebutkan sila dalam Pancasila, melakukan gerakan Push-Up, atau sekedar menyapu jalan tidak memberi gertakan yang nyata terhadap pelanggar. Jujur saja, sekarang memberantas Covid-19 semakin sulit dibanding awal masuknya virus ke tanah air.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan mengaku pemerintah kini tengah dihadapkan situasi yang dilematis. Pasalnya, hingga kini belum ada sanksi tegas bagi mereka yang melanggar imbauan protokol kesehatan, salah satunya terbentur masalah Humanisme.

Salah satu hukuman yang lebih efektif menurut Lilik, salah satunya menyemprotkan air ke sekelompok Covidiot agar mereka terpaksa pulang kerumah karena sekujur tubuh basah kuyup. Tapi tidak semua kasus mempan dengan jurus seperti itu.

Seperti disebut diawal, Si B positif Covid-19 berniat menyebarkan ke orang-orang lain entah karena dia frustrasi atau pikiran agar dia “tidak menderita sendirian”, maka dia juga mengancam nyawa orang banyak. Sanksi se-humanis apa yang dipertahankan terhadap sikap Covidiot seperti itu? Dipastikan semprot air tidak mempan, maka kasarnya orang seperti itu harus “dibasmi”.

Pada akhirnya pemerintah harus memilih, apakah berbuat “halus” tapi jumlah Covidiot terus bertambah, atau berbuat tegas demi mengurangi penyebaran virus. Kita harus mengakui, sebenarnya kekuatan virus ya begitu-begitu saja, Tapi Covidiot yang mempersulit tekad orang lain, dan sekaligus negara yang sedang kebingungan memulihkan ekonomi atau kesehatan terlebih dahulu.

 

 

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.