Ulasan Xiaomi Redmi 9A Indonesia Harga & Spesifikasi 2020

Fitri Tamara 0

Ya, menyusul “saudara-saudaranya”, yaitu Redmi Note 9 dan Redmi 9 akhirnya Redmi 9A seri Redmi yang paling “bontot” ini rilis resmi juga, dan kita sekarang membahas review ulasan redmi 9a indonesia kekurangan & kelebihannya.

Secara desain, Redmi 9A ini masih mirip dengan Redmi 9. Bobotnya itu tidak berbeda jauh.

Begitu juga dengan ketebalan bodinya  yang masih sama-sama di bawah 1 cm.

Ukuran layarnya juga sama-sama jumbo, 6.53″  dengan desain Dot Drop Display.

Harga launch di Indonesia sekitar Rp1,2jtan.

Tapi, Redmi 9A ini resolusi layarnya lebih rendah  yaitu 720p atau HD+. Nah, permukaan belakangnya juga sama-sama berbahan doff ya serta bertekstur, jadi cukup nyaman kalau dipegang tidak licin, tidak mudah membekas sidik jari dan bodi desain permukaan lebih tahan goresan atau benturan daripada bodi yang glossy.

Jadi, saya cukup percaya diri untuk memakai smartphone ini meski tanpa casing atau pelindung sekalipun. Nah, perbedaan yang paling kelihatan sebenarnya pada jumlah kamera dan penempatannya.

Pada Redmi 9A ini cuma dibekali 1 kamera saja dan penempatan kameranya juga paling berbeda dari keluarga Redmi 9 yang lain  bukan di tengah, tapi di kiri-atas.

Pada sisi kanan ini ada tombol power dan juga volume. Sedangkan pada sisi sebaliknya ada slot SIM tray yang sudah support triple slot SIM  jadi, bisa pasang 2 SIM plus microSD sekaligus. Lanjut, di sisi atas ada jack audio 3.5mm.

Pada sisi bawah, lumayan “ramai”  ada microphone, lubang speaker dan port micro USB.

Loh? Kok jadi downgrade ya ada micro USB?

Seingat saya, Redmi 8A itu port USB-nya sudah Type-C serta sudah support fast charging juga di 18W. Loh, kok di seri yang baru ini jadi kembali ke port microUSB yang hanya support charger standar pada 10W.

Tapi yang cukup mengagetkan saat baru pertama mencoba smartphone ini  ternyata Redmi 9A ini sudah pre-install MIUI terbaru  atau MIUI 12.

Hal itu menjadi poin plus sekali sih, karena “sauadara-saudaranya” saja belum dapat bagian update, sementara “si bontot” ini sudah bisa langsung pakai MIUI 12 tanpa harus menunggu update lagi.

Memang sih, MIUI 12 ini sangat ditunggu-tunggu oleh para Mi-fans  karena mampu menampilkan antar-muka yang lebih baru  lebih fresh, lebih smooth, transisi-nya semakin asik  animasinya semakin banyak.

Dark Mode-nya juga semakin merata, navigation full gesture-nya juga semakin responsif serta ada pembaharuan desain pada beberapa ikon tertentu. Nah, salah satu yang paling kelihatan baru dari MIUI 12 ini sekarang toogle notifikasi dan pusat kontrolnya sudah dipisah ya.

Awalnya agak ribet, kenapa harus dipisahkan begini sih?

Tapi, setelah melihat tampilannya yang fresh dan cukup minimalis  yaa, rasanya jadi enak-enak saja sekarang.

MIUI 12 ini memang menawarkan performa yang cukup smooth dan pengalaman penggunaan yang enak. Tapi, kembali lagi, sekarang kita mencoba MIUI 12 di smartphone Android yang RAM-nya sendiri hanya 2GB  dan ya tidak bisa dibilang 100% smooth sih, karena saya masih merasakan adanya semacam lag  transisinya juga tidak smooth dan ketika scroll-scroll sosial media juga sangat terasa “patah-patahnya”.

Nah, kalau kamu merasa RAM 2GB itu sangat mepet sekali  sebenarnya Redmi 9A ini juga hadir dalam varian RAM 3GB  tapi tentu saja dengan harga yang lebih tinggi. Sementara untuk penyimpanan internalnya masih sama-sama di 32GB.

Ya, kapasitas 32GB itu lagi-lagi tidak bisa dibilang ‘besar’ juga ya. Tapi ya, ini ‘kan smartphone entry-level  dan kalau kamu masih merasa kurang, sebenarnya ‘kan masih ada slot microSD  jadi, kamu bisa menambah ruang untuk menyimpan foto, video atau musik favorit kamu lebih banyak lagi.

Untuk SoC atau dapur pacunya, Redmi 9A ini diotaki dengan SoC Helio G25 buatan MediaTek. Ya, karena ada huruf ‘G’, memang, SoC ini masih masuk keluarga Helio G-series, sama seperti Helio G80 dan Helio G85.

Tapi, Helio G25 ini didesain utamanya untuk smartphone kelas entry-level ini karena ketika saya lihat konfigurasinya, di sini ada 8-Core yang kesemuanya itu berjalan di Cortex A53  serta punya arsitektur di 12nm.

Nah, jika melihat angka-angka ini, SoC ini lebih mirip Helio P22  hanya saja, karena dia masuk Helio G-series  yaa, Helio G25 ini punya semacam nilai plus ya karena SoC ini sudah punya atau mendukung fitur Hyper Engine.

Nah, fitur ini memungkinkan smartphone bisa loading game lebih cepat  latency jaringannya juga lebih minim  jadi, lebih enak dipakai untuk main game-game online serta ada peningkatan visual pada game itu sendiri.

Tapi, itu semua ‘kan sekadar teorinya ya. Saat saya coba main game PUBG Mobile pada smartphone ini  yaa cuma dapat setting grafis rata kiri alias Smooth-Medium.

Ya, karena Helio G25 ini semuanya berbasis Cortex A53 yang masih memakai teknologi lebih lama dan memang tidak didesain untuk kencang  jadi ya wajar-wajar saja kalau dipakai untuk main game PUBG Mobile  masih terasa ada lag.

Tapi untuk game-game dengan grafis yang lebih rendah seperti Mobile Legends atau Free Fire, smartphone ini masih cukup oke sih untuk dimainkan.

Smartphone entry-level yang Cuma punya 1 kamera saja  itu memang berat sekali saingannya  karena di harga Rp 1 jutaan, smartphone dual-camera itu sudah banyak sekali  segudang!

Apalagi sekarang sudah mulai menjadi tren nih  smartphone Rp 1 jutaan dengan Quad-Camera atau 4 kamera. Ya, meskipun kamera yang lain itu lebih banyak gimmick-nya.

Nah, smartphone ini cuma punya 1 kamera saja  yaitu kamera utama dengan resolusi 13MP. Selama 2 hari mencoba kameranya, menurut saya  kamera Redmi 9A ini sudah cukup oke sih  selama diambil pada kondisi cahaya yang cukup ya  alias di outdoor dan pada siang hari.

Tapi ya seperti kamera smartphone entry-level pada umumnya  kamera Redmi 9A ini juga kurang bisa diandalkan untuk foto-foto di malam hari atau pada kondisi cahaya yang remang-remang  hal ini karena sensor kameranya kecil, bukaan lensanya sempit  dan smartphone ini juga tidak dibekali mode malam  jadi ya, sebaiknya jangan dipaksakan untuk foto-foto di malam hari.

Jika ditanya apa yang ‘konsisten’ dari Redmi A-series  saya bisa jawab sih  absen-nya fingerprint scanner. Ini konsisten sekali!

Dari seri yang pertama sampai seri yang paling baru  tetap tidak ada fingerprint scanner atau sensor sidik jari  dan cuma mengandalkan face unlock saja untuk sensor biometrik-nya.

Saya sendiri sebenarnya kurang nyaman juga sih memakai face unlock pada smartphone ini  hal ini karena face unlock di smartphone entry-level itu ‘kan cuma scanning wajah secara 2D dan bukannya 3D  jadi, lebih rentan untuk dimanipulasi.

Selain itu, ini ‘kan masa pandemic di mana kita setiap hari harus memakai masker  nah, ketika kita memakai face unlock  jadinya tidak efektif saja sih, karena kita jadi sering buka-tutup masker hanya untuk unlock smartphone.

Ya, karena tidak bisa memaksimalkan performa dan juga kameranya  satu-satunya yang bisa dimaksimalkan dari smartphone entry-level adalah kapasitas baterai-nya.

BATERAI REDMI 9A

Kapasitas baterainya ini cukup jumbo, yaitu 5000 mAh. Ya, baterai ini memang “keterlaluan” sekali sih awetnya. Sebagai gambaran, saya mencobanya untuk main game PUBG Mobile sekitar 20-30 menitan, dan baterai smartphone ini cuma turun sekitar 3% saja.

Ulasku.com berharap artikel info ini bisa memberikan referensi baru  terutama untuk kalian yang sedang mencari smartphone kedua yang baterai-nya awet dan bisa menunjang kebutuhan WFH atau Working From Home  atau untuk adik-adik sekolah nih, yang sedang mencari smartphone budget  tapi tidak mementingkan soal spek  karena ya memang tidak dipakai untuk main game juga  melainkan lebih kepada untuk kebutuhan belajar online.

Mungkin Redmi 9A ini bisa dijadikan pertimbangan. Murah atau mahal, semuanya kembali lagi pada selera, kebutuhan dan yang pasti bujet kamu.

 

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.