Film The Social Dilemma, Bukti Manusia Mulai Dikontrol Teknologi

Fitri Tamara 0

Yuval Noah Harari, socio-scientist asal Israel mengingatkan bahwa “Humans have bodies“, manusia seharusnya memiliki sosok fisik. Tapi yang terjadi sekarang, manusia cenderung merasa “terwakili” oleh ID, avatar, atau account maya. Apa bahaya terbesarnya? Semua yang dilakukan profile buatan kita sendiri itu dapat direkam dan dijadikan keuntungan para pembuat aplikasi.

The Social Dilemma adalah film dokumenter besutan Netflix yang sedang populer. Film ini menguak sisi gelap teknologi dan media sosial, dan kebetulan yang disorot adalah dua platform raksasa, Facebook dan Google.

Sebagai pengguna awam, kita memang dapat ber-selancar di sosial media dengan gratis. Namun yang tidak kita sadar kenapa semua itu bisa gratis adalah – artikel apa yang kita open, apa yang kita like, foto apa yang kita click, semua menjadi data berharga untuk dijual ke pihak ketiga.

Dijual untuk apa? banyak sekali. Tindakan simple kita di dunia maya dimanfaatkan sebagai bahan referensi untuk para pengiklan produk, sebagai referensi pilihan politik saat pemilu, sampai referensi biasanya kapan kita meninggalkan rumah, kapan pulang, dan kapan menggunakan kartu kredit.

Mereka membuat kita untuk terus memberikan data, menunjukkan apa yang kita suka, dan kebiasaan-kebiasaan spesifik kita. Kita tidak pernah sadar dijual kemana dan ke perusahaan seperti apa data personal (yang bahkan pasangan dan ibu kandung kita pun tidak tahu) tersebut.

Facebook memberi tanggapan tentang film dokumenter tersebut. Platform besutan Mark Zuckerberg itu menilai kalau ini adalah cuma dokumenter sensasional. Algoritma (kecerdasan buatan) yang dibuat oleh platform diperlukan supaya user melihat hal yang relevan dan berguna.

Opsi film bagus lainnya adalah daftar film sniper terbaik sejauh ini.

Betul, mungkin pada awalnya niat Facebook, Google, Twitter, Instagram memang murni “men-sosial-kan” manusia di dunia maya. Seperti halnya 15 tahun lalu saat Mark masih dibangku kuliah. Tapi melihat peluang bisnis sebesar itu yang bisa dilakukan dengan data-data penggunanya, who knows?

Tapi tidak hanya sisi negatif, The Social Dilemma juga menekankan sisi positif sosial media, misalnya segala informasi bisa dengan mudah didapatkan dan kita bisa terhubung ke siapa saja kapanpun.

Yang disayangkan adalah di zaman keterbukaan, dimana informasi sekecil apapun dan sejauh apapun bisa diketahui dengan mudah, algoritma internet malah secara tidak terbuka memasang “perangkap” untuk mempengaruhi penggunanya.

 

 

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.