Pariwisata, Roda Ekonomi & Pengetatan Protokol Kesehatan

Pariwisata menjadi sektor paling terkena imbas di tengah pandemi covid19 ini di seluruh dunia. Wilayah seperti contohnya Bali, seperti wilayah lain yang mengandalkan wisata untuk penduduknya menjadi yang paling terpukul.

Pertumbuhan ekonomi minus terbesar Indonesia ada di Bali.

Pemerintah berusaha menyeimbangkan perputaran roda ekonomi untuk khususnya kontribusi sektor wisata, disisi lain ada protokol kesehatan yang menurut pemerintah penting.

2 hal ini sepertinya saling mendukung secara kesehatan supaya maksudnya masih tetap sehat walaupun di tengah berwisata.

Tapi dari segi yang berwisata, sepertinya hal ini ditangkap berbeda idenya oleh sebagian orang.

Anda bisa bayangkan, bila Anda bayar mahal- mahal untuk wisata, sedangkan waktu berwisata ternyata ada ‘razia’ dan para wisatawan diminta untuk test, di mainstream berita sih ada yang swab, ada rapid, maupun antigen.

Hal ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia salah satunya di Puncak.

Bila diminta test untuk sebelum berwisatanya sih masih OK lah, namun bagaimana bila test ini karena razia rapid test on the spot di tempat wisata yang sejenis ‘mengharuskan’ para wisatawan melakukannya.

Bagaimana menurut Anda?

Sepertinya dari sudut wisatawan, sebagian tidak akan keberatan, namun dengan pengalaman berwisata seperti ini tentu akan memberikan dampak negatif dan kurangnya kepuasan berwisata.

Anggapan sebagian orang adalah seperti “Ya maklumlah, kan kita masih di tengah pandemi, jadinya mending liburan dan seperti ini daripada tidak sama sekali.”

Mungkin hal ini ada benarnya sih, namun bila Anda nantinya berwisata tidak ada ‘peak season’ tentunya hal ini tidak akan terjadi.

Contohnya bila Anda ke Bali sebelum 18 Desember 2020, via jalan darat, Anda tidak akan diminta untuk swab, namun rapid saja sudah lebih dari cukup.

Waktu berwisatanya di Bali, tidak banyak dilakukan razia di tempat wisata, dan tidak ada sama sekali berita tentang sample random cek untuk diminta lakukan rapid di tempat.

Jadi pilihan memang tidak ada yang enak, terlebih bila Anda jalan- jalan di timing dimana semua orang sedang jalan- jalan. Jadi jalan di tengah low season bisa menjadi pilihan lebih baik ketimbang di high season seperti libur Nataru 2020 ini.

You May Also Like

About the Author: Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *