Masker Kain Harus SNI : Murni Tentang Kesehatan Atau Bisnis?

Fitri Tamara 0

Di awal Pandemi medio Maret-April-Mei lalu, masyarakat mengeluh kehabisan masker medis. Walaupun ada, masker medis hanya bisa satu kali pakai sedangkan keperluan masyarakat jauh lebih banyak dari itu. Alih-alih tidak menggunakan masker sama sekali sedangkan ancaman virus kian nyata, masker kain menjadi alternatif, praktis dan bisa dicuci berulang-ulang.

Kini sebagian karena penyebab diatas, masker kain luar biasa populer dan jadi kebutuhan primer orang-orang. Walaupun diklaim hanya bisa menangkal paling banyak 5 persen pengaruh buruk dari paparan udara luar, kepraktisannya sudah semakin mempermudah stigma “yang penting (terlihat) pakai masker”.

Saking populernya, masker kain berkembang menjadi masker scuba yang terlihat lebih “keren” dan praktis. Tapi sama saja, sebenarnya minim sekali virus yang bisa ditangkal oleh dua jenis masker tersebut karena hanya terdiri dari 1-2 lapis kain.

Oleh karena itu Deputi Bidang Pengembangan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nasrudin Irawan pun menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 8914:2020 Tekstil – Masker dari kain, diantaranya masker harus memiliki minimal dua lapis kain.

Selain itu pemilihan material masker kain juga perlu diperhatikan, karena filtrasi dan kemampuan bernafas bervariasi tergantung pada jenis material. Filtrasi pada masker dari kain berdasarkan penelitian adalah antara 0,7 – 60 persen. Semakin banyak lapisan maka akan semakin tinggi efisiensi filtrasi.

Terkait penandaan pada kemasan masker berlabel SNI, paling tidak harus mencantumkan merk pada kemasan, negara pembuat, jenis serat setiap lapisan, anti bakteri, tahan air, pencantuman label “cuci sebelum dipakai”, petunjuk pencucian, serta tipe masker kain.

Muncul pertanyaan klasik mengenai cap SNI yang baru tercetus sekarang. Apakah benar untuk memperketat protokol kesehatan atau aji mumpung karena masker kain sudah terbukti laris?

Kalau dinilai secara fair pasti ada pertimbangan kedua hal tersebut. Tapi kita percaya kemungkinan pertama lebih dominan. Untuk mencegah peredaran masker agar tidak semakin asal-asalan, negara merasa harus turun tangan untuk menciptakan standardisasi.

Tapi semoga pengawasannya di lapangan haruslah cerdas. Jangan seperti beberapa waktu lalu dimana ada pengendara motor ditilang hanya karena helmnya tidak berlabel SNI, padahal usut punya usut pengendara tersebut mengaku helm yang dia pakai adalah replika Moto GP yang sudah pasti kualitasnya sudah lebih dari SNI alias standar internasional.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.