Kampanye di masa pandemi, bagaimana cara nya?

Fitri Tamara 0

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang. Rencana awal Pilkada dilaksanakan 23 September 2020. Namun harus diundur karena pandemi Covid-19.

Layaknya seperti Pilkada sebelumnya, Pilkada selalu identik dengan kampanye. Kampanye biasa dilakukan dengan berbagai macam cara. Seperti pemasangan baliho, spanduk, sampai konser musik.

Mungkin dari semua itu, yang paling efektik adalah konser musik. Simpatisan dapat bertemu langsung dengan pasangan calon dan musik khususnya dangdut dapat menarik banyak massa.

Namun, dengan kondisi pandemi seperti sekarang. Konser musik akan menimbulkan masalah baru jika tetap dilaksanakan. Disebabkan konser musik akan menimbulkan kerumunan massa yang cukup besar.

Seperti diketahui, di masa pandemi sangat dilarang jika terdapat kerumunan. Bayangkan jika 270 daerah yang mengikuti pilkada mengadakan konser musik. Berapakah resiko tertular Covid-19 yang akan di timbulkan oleh kerumunan massa?

Untuk menjawab hal itu, KPU sebagai penyelenggara pilkada memberikan opsi kampanye bagi para paslon pada masa pandemi. Berikut saran dari KPU :

Konser musik harus sesuai protokol kesehatan, massa yang datang dibatasi

KPU berujar kampanye Pilkada serentak 2020 boleh mengadakan konser musik dan acara yang lain. Namun harus dengan protokol kesehatan dan dibatasi hanya 100 orang. Serta berkoordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid setempat.

Frekuensi kampanye melalui konser musik akan dikurangi jumlahnya, tidak sama seperti keadaan normal. Selain itu, KPU mengingatkan kepada paslon akan menghentikan acara kampanye jika menyalahi aturan protokol kesehatan.

Tetapi usulan ini menimbulkan perdebatan. Banyak pihak tidak setuju jika konser musik tetap dijalankan di masa pandemi. Bahkan Bawaslu menyarankan untuk para paslon tidak mengadakan konser yang menyebabkan kerumunan massa.

Hal senada juga disampaikan oleh Komisi II DPR, dalam rapat Komisi II memutuskan tetap melarang pertemuan yang melibatkan kerumunan seperti konser musik, arak-arak an dan lain-lain. Dengan berbagai pihak yang tidak setuju dengan usulan tersebut, sepertinya KPU harus memikirkan alternatif lain.

Mungkin KPU bisa memaksimalkan media sosial untuk kampanye pasangan calon. Dengan penggunaan sosial media yang sangat masif saat ini. Kampanye melalui media sosial merupakan salah satu cara efektif yang dapat diterapkan.

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.