Haruskah Hiu Dibantai “Demi” Menyelamatkan Manusia?

Fitri Tamara 0

Kita harus jujur, manusia punya andil besar dalam merajalelanya Covid-19. Gunung es yang mencair membebaskan beribu-ribu virus purba yang lama membeku adalah akibat pemanasan global ulah manusia. Kelelawar yang (seharusnya) bukan makanan, tapi disantap juga dan akhirnya menjadi pemicu awal sang virus, juga terjadi berkat kebuasan homo sapiens.

Kita juga harus menerima, pandemi tidak kunjung selesai karena kebandelan kita sendiri. Kita cepat bosan diminta berdiam dirumah. Kita melakukan perlawanan keras ketika orang lain mengingatkan tentang protokol kesehatan.

Homo sapiens (manusia bijaksana) hanya menuntut hasil instan. Tuntutan ekonomi dan kembali hidup nyaman membuat mereka mencari proses paling cepat untuk membasmi Coronavirus, kalau perlu dengan cara yang biasa mereka lakukan : menghabisi komponen alam lagi.

Ahli konservasi memperkirakan 500 ribu ikan hiu akan dibunuh untuk diambil minyak hatinya demi tersedianya vaksin Covid-19. Salah satu bahan yang digunakan dalam beberapa kandidat vaksin yang dimaksud bernama squalene.

Sebuah kelompok Shark Allies yang berbasis di California, menyatakan bahwa tak kurang 250 ribu hiu akan dibantai apabila populasi dunia dihitung menerima satu dosis vaksin yang mengandung minyak hati hiu.

Shark Allies melanjutkan, “Squalene yang terbuat dari minyak hati ikan hiu paling sering digunakan bukanlah karena efektivitas, tapi karena lebih murah dan mudah didapatkan.”

Squalene sebenarnya juga terdapat didalam tumbuhan, namun Squalene nabati berharga sekitar 30 persen lebih mahal daripada milik hiu.

Proses ekstraksi squalene hiu juga hanya membutuhkan waktu 10 jam, berbanding 70 jam milik minyak zaitun dengan kemurnian yang sama.

Kembali terbukti, manusia cuma mencari cara instan dan lagi-lagi tentang uang. Jika saja jumlah predator berkurang jauh, maka rantai makanan akan tidak seimbang dan kita harus akui – kita tidak tahu persis apa lagi yang akan terjadi dengan alam.

Apakah pantas alam “dikorbankan” lagi demi menyelamatkan manusia? Oke manusia memang ditempatkan sebagai makhluk tertinggi yang bertugas mengelola alam semesta. Tapi di titik ini, manusia sudah terlalu serakah dan memuakkan.
Mungkin saat artikel ini tayang, perburuan besar-besaran sudah terjadi sebelum para aktivis sempat berkoar. Tapi sudah saatnya kita fair, hiu tidak layak dibantai. Jika ada satu-satunya makhluk yang layak punah, itu adalah manusia beserta seluruh perbuatannya.

 

Tags:

Fitri Tamara

Hobi menulis, suka dengan pembahasan teknologi dan aplikasi smartphone. Sempat menjadi penulis untuk sejumlah website, dan kini menjadi kontributor di Ulasku.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published.